Senin, 28 Maret 2011

Data Gua Sulawesi Selatan


Berikut ini adalah data-data gua yang Sulawesi Selatan, dari Weblog milik Ardy Prasetyo 
Gua Vertikal
1. Lubang Leang Pute
Lebar Mulut Gua : 50 – 80 m
Kedalaman Gua : 200 – 270 m
Kondisi Gua : Vertikal (Long Pitch), Teras
Jenis Batuan : Batu Gamping
Lokasi : Dusun Pattiro, Desa Labuaja, Kecamatan Bantimurung, Kabupaten Maros.
Cara pencapaian lokasi : Menggunakan kendaraan umum jurusan Makassar – Maros (Rp 3.000-/ orang), Maros – Nahung (Rp 4.000-/orang)
Jalur medis terdekat : Puskesmas Bantimurung
Peta Topografi : Bakosurtanal, Lembar 2011-32, Camba
2. Lubang Dinosaurus
Lebar Mulut Gua : 80-100 m
Kedalaman Gua : 150 – 180 m
Kondisi Gua : Vertikal (Multi Pitch), Teras
Jenis Batuan : Batu Gamping
Lokasi : Dusun Pattiro, Desa Labuaja, Kecamatan Bantimurung, Kabupaten Maros.
Cara pencapaian lokasi : Menggunakan kendaraan umum jurusan Makassar-Maros (Rp 3.000-/orang), Maros-Nahung (Rp 4.000-/orang)
Jalur medis terdekat : Puskesmas Bantimurung
Peta Topografi : Bakosurtanal, Lembar 2011-32, Camba
3. Lubang K20
Lebar Mulut Gua : 2 – 5 m
Kedalaman Gua : 130 – 160 m
Kondisi Gua : Vertikal (Multi Pitch), Teras
Jenis Batuan : Batu Gamping
Lokasi : Kappang, Km.57, Kabupaten Maros.
Cara pencapaian lokasi : Menggunakan kendaraan umum jurusan Makassar-Maros (Rp 3.000-/orang), Maros-Kappang (Rp 3.500-/orang)
Jalur medis terdekat : Puskesmas Bantimurung
Peta Topografi : Bakosurtanal, Lembar MAROS
4. Lubang Tomanangna
Lebar Mulut Gua : 30 – 50 m
Kedalaman Gua : 190 m
Kondisi Gua : Vertikal (long Pitch)
Jenis Batuan : Batu Gamping
Lokasi : Dusun Langko,Kappang, Kabupaten Maros.
Cara pencapaian lokasi : Menggunakan kendaraan umum jurusan Makassar-Maros (Rp 3.000-/orang), Maros-Kappang (Rp 3.500-/orang)
Jalur medis terdekat : Puskesmas Bantimurung
Peta Topografi : Bakosurtanal, Lembar MAROS
5. Lubang Kapa-kapasa
Lebar Mulut Gua : 10 – 15 m
Kedalaman Gua : 210 m
Kondisi Gua : Vertikal (Multi Pitch),
Jenis Batuan : Batu Gamping
Lokasi : Dusun Kapa-kapasa, Kabupaten Maros.
Cara pencapaian lokasi : Menggunakan kendaraan umum jurusan Makassar-Maros (Rp 3.000-/orang), Maros-Kappang (Rp 3.500-/orang)
Jalur medis terdekat : Puskesmas Bantimurung
Peta Topografi : Bakosurtanal, Lembar 2011-32, Camba
6. Lubang Lantang Huu
Lebar Mulut Gua : 5 – 8 m
Kedalaman Gua : 50 m
Kondisi Gua : Vertikal (Long Pitch)
Jenis Batuan : Batu Gamping
Lokasi : Leang Rakko, Kabupaten Maros.
Cara pencapaian lokasi : Menggunakan kendaraan umum jurusan Makassar-Maros (Rp 3.000-/orang), Maros-Pangia (Rp 3.000-/orang)
Jalur medis terdekat : Puskesmas Bantimurung
Peta Topografi : Bakosurtanal, Lembar MAROS
7. Lubang Baba’
Lebar Mulut Gua : 2 – 3 m
Kedalaman Gua : 40 m
Kondisi Gua : Vertikal (Long Pitch)
Jenis Batuan : Batu Gamping
Lokasi : Desa Pangia, Kec. Simbang, Kab. Maros.
Cara pencapaian lokasi : Menggunakan kendaraan umum jurusan Makassar-Maros (Rp 3.000-/orang), Maros-Pangia (Rp 3.000-/orang)
Jalur medis terdekat : Puskesmas Bantimurung
Peta Topografi : Bakosurtanal, Lembar MAROS
8. Gua Padaelok
Lebar Mulut Gua : 5 – 10 m
Kedalaman Gua : 54 m
Kondisi Gua : Vertikal (Long Pitch + Slab 200), Teras
Jenis Batuan : Batu Gamping
Lokasi : Desa Pangia, Kec.Simbang, Kab.Maros.
Cara pencapaian lokasi : Menggunakan kendaraan umum jurusan Makassar-Maros (Rp 3.000-/orang), Maros-Pangia (Rp 3.000-/orang)
Jalur medis terdekat : Puskesmas Bantimurung
Peta Topografi : Bakosurtanal, Lembar MAROS
B. Gua Horisontal
1. Gua Patta
Jenis Gua : Horizontal (Slab ±300)
Kondisi Gua : Berair
Panjang Total Gua : ± 950 meter
Jenis Batuan : Gamping
etak Administratif : Leang Rakko, Desa Pangia, Kec. Simbang
Peta Topografi : Bakosurtanal, Lembar 2010-63, Maros
Transportasi : Makassar-Pangia (Rp. 6.000-/orang)
Waktu tempuh : ± 3 jam.
Base Camp : Leang Rakko, Maros
Perizinan : Kesbang Provinsi Sul-Sel, Polda Sul-Sel (tembusan ke Kesbang Maros dan Kapolres Maros).
Sumber Air : Dalam Gua
Jalur medis terdekat : Puskesmas Bantimurung
Adat istiadat : Semua yang dilarang oleh agama
2. Gua Sammani
Jenis Gua : Horisontal
Kondisi Gua : Kering
Panjang Total Gua : ± 400 meter
Jenis Batuan : Gamping
Letak Administratif : Leang Rakko, Desa Pangia, Kec. Simbang
Peta Topografi : Bakosurtanal, Lembar 2010-63, Maros
Transportasi : Makassar-Pangia (Rp. 6.000-/orang)
Waktu tempuh : ± 3 jam.
Base Camp : Leang Rakko, Maros
Perizinan : Kesbang Provinsi Sul-Sel, Polda Sul-Sel (tembusan ke Kesbang Maros dan KapolresMaros).
Jalur medis terdekat : Puskesmas Bantimurung
Adat istiadat : Semua yang dilarang oleh agama
3. Gua Suleman
Jenis Gua : Horisontal
Kondisi Gua : Kering-Berlumpur-Berair
Panjang Total Gua : ± 850 meter
Jenis Batuan : Gamping
Letak Administratif : Dusun Pattunuang, Desa Samanggi Kec. Simbang
Peta Topografi : Bakosurtanal, Lembar 2010-63, Maros
Transportasi : Makassar-Pattunuang Asue (Rp. 5.000-/orang)
Waktu tempuh : ± 3 jam.
Base Camp : Bislab, Maros
Perizinan : Kesbang Provinsi Sul-Sel, Polda Sul-Sel (tembusan ke Kesbang Maros dan Kapolres Maros).
Sumber Air : Sungai Pattunnuang
Jalur medis terdekat : Puskesmas Bantimurung
Adat istiadat : Semua yang dilarang oleh agama
4. Gua Saripa
Jenis Gua : Horisontal
Kondisi Gua : Kering-Berlumpur-Berair
Panjang Total Gua : ± 1200 meter
Jenis Batuan : Gamping
Letak Administratif : Dusun Ta’deang, Desa Samanggi Kec. Simbang
Peta Topografi : Bakosurtanal, Lembar 2010-63, Maros
Transportasi : Makassar-Ta’deang (Rp. 5.000-/orang)
Waktu tempuh : ± 3 jam.
Base Camp : Ta’deang, Maros
Perizinan : Kesbang Provinsi Sul-Sel, Polda Sul-Sel (tembusan ke Kesbang Maros dan Kapolres Maros).
Sumber Air : Sungai Pattunnuang
Jalur medis terdekat : Puskesmas Bantimurung
Adat istiadat : Semua yang dilarang oleh agama
5. Gua Hamid
Jenis Gua : Horisontal
Kondisi Gua : Kering
Panjang Total Gua : ± 500 meter
Jenis Batuan : Gamping
Letak Administratif : Dusun Ta’deang, Desa Samanggi Kec. Simbang
Peta Topografi : Bakosurtanal, Lembar 2010-63, Maros
Transportasi : Makassar-Ta’deang (Rp. 5.000-/orang)
Waktu tempuh : ± 3 jam.
Base Camp : Ta’deang, Maros
Perizinan : Kesbang Provinsi Sul-Sel, Polda Sul-Sel (tembusan ke Kesbang Maros dan Kapolres Maros).
Sumber Air : Sungai Pattunnuang
Jalur medis terdekat : Puskesmas Bantimurung
Adat istiadat : Semua yang dilarang oleh agama
6. Gua Anjing
Jenis Gua : Horisontal
Kondisi Gua : Berlumpur-Berair
Panjang Total Gua : ± 400 meter
Jenis Batuan : Gamping
Letak Administratif : Dusun Ta’deang, Desa Samanggi Kec. Simbang
Peta Topografi : Bakosurtanal, Lembar 2010-63, Maros
Transportasi : Makassar-Ta’deang (Rp. 5.000-/orang)
Waktu tempuh : ± 3 jam.
Base Camp : Bislab, Maros
Perizinan : Kesbang Provinsi Sul-Sel, Polda Sul-Sel (tembusan ke Kesbang Maros dan Kapolres Maros).
Sumber Air : Sungai Pattunnuang
Jalur medis terdekat : Puskesmas Bantimurung
Adat istiadat : Semua yang dilarang oleh agama
7. Gua Saloaja
Jenis Gua : Horisontal
Kondisi Gua : Berair
Panjang Total Gua : ± 800 meter
Jenis Batuan : Gamping
Letak Administratif : Dusun Pattunuang, Desa Samanggi Kec. Simbang
Peta Topografi : Bakosurtanal, Lembar 2010-63, Maros
Transportasi : Makassar-Pattunuang (Rp. 5.000-/orang)
Waktu tempuh : ± 3 jam.
Base Camp : Bislab, Maros
Perizinan : Kesbang Provinsi Sul-Sel, Polda Sul-Sel (tembusan ke Kesbang Maros dan Kapolres Maros).
Sumber Air : Sungai Pattunnuang
Jalur medis terdekat : Puskesmas Bantimurung
Adat istiadat : Semua yang dilarang oleh agama
8. Gua Kharisma
Jenis Gua : Horisontal
Kondisi Gua : Kering
Panjang Total Gua : ± 330 meter
Jenis Batuan : Gamping
Letak Administratif : Dusun Kappang, Kec. Simbang
Peta Topografi : Bakosurtanal, Lembar 2010-63, Maros
Transportasi : Makassar-Kappang (Rp. 6.500-/orang)
Waktu tempuh : ± 3,5 jam.
Base Camp : Kappang, Maros
Perizinan : Kesbang Provinsi Sul-Sel, Polda Sul-Sel (tembusan ke Kesbang Maros dan Kapolres Maros).
Sumber Air : Mata Air, Km. 58
Jalur medis terdekat : Puskesmas Bantimurung
Adat istiadat : Semua yang dilarang oleh agama
9. Gua Saleh
Jenis Gua : Horisontal
Kondisi Gua : Kering
Panjang Total Gua : ± 300 meter
Jenis Batuan : Gamping
Letak Administratif : Desa Pangia, Kec. Simbang
Peta Topografi : Bakosurtanal, Lembar 2010-63, Maros
Transportasi : Makassar-Pangia (Rp. 6.000-/orang)
Waktu tempuh : ± 3 jam.
Base Camp : Leang Rakko, Maros
Perizinan : Kesbang Provinsi Sul-Sel, Polda Sul-Sel (tembusan ke Kesbang Maros dan Kapolres Maros).
Jalur medis terdekat : Puskesmas Bantimurung
Adat istiadat : Semua yang dilarang oleh agama
10 Gua Pamelakang Tedong (Tempat Pembuangan Kerbau)
Panjang Total : 151,11 meter
Jenis Batuan : Gamping
Kondisi Gua : Berair.
Ketinggian : ± 25 m dpl
Letak Administratif : Dusun Bellae, Desa Biraeng, Kec. Perwakilan Minasatene.Kabupaten Pangkep
Jalur Medis Terdekat : Puskesmas Setempat
11. Gua Katalangang Erea I (Gua Yang Tegelam)
Panjang Total : 188,01 meter
Jenis Batuan : Gamping
Kondisi Gua : Berair.
Letak Administratif : Dusun Bellae, Desa Biraeng, Kec. Perwakilan Minasatene.Kabupaten Pangkep.
Akses ke Lokasi : Berada pada tebing yang berjarak ± 1,5 km dari jalan raya.
12. Gua Loko Tojolo (Gua Orang-orang Dulu)
Letak Administratif : Dusun Buntu Kayan, Desa Sumilan, Kecamatan Alla, Kabupaten Enrekang.
Kwasan Karst : Enrekang
Gunung Terdekat : Buttu Kayan
Akses ke Lokasi : Dari Sudu ke Cece (dgn kendaraan) menuju ke Sumilan. Dari Desa Sumilan menuju Buttu Kayan (jalan kaki).
Gua horizontal (panjang) : meter
Gua vertikal (dalam) : meter
Bahaya Penelusuran Gua : Licin
13. Gua Rabun (Gua Kematian)
Letak Administratif : Dusun Tangsa, Desa Benteng Alla, Kecamatan Alla, Kabupaten Enrekang.
Kawasan Karst : Enrekang
Gunung Terdekat : Buttu Alla
Akses ke Lokasi : Dari Sudu ke Desa Tangsa (dgn kendaraan) menuju ke lokasi gua (Benteng Alla).
Derajat kesulitan : Sedang
Pencaharian rakyat : Petani, Pedagang dijadikan sebagai kuburan Termasuk gua kering.
Sedimen Gua : Tanah
Kerusakan gua yaitu : Pembakaran.

Info Goa Di Gombong




 http://www.facebook.com/album.php?fbid=194782960562047&id=100000910345926&aid=43283
Info dari Gumoong SiSiluman Kerbau (facebook), ada sedikit denah seputar goa-goa di Gombong,,,

Minggu, 27 Maret 2011

TERJADINYA GUA DAN JENISNYA

Dua unsur penting yang memegang peran terjadinya gua, yaitu rekahan dan cairan. Rekahan atau lebih tepat disebut sebagai “zona lemah”, merupakan sasaran bagi suatu cairan yang mempunyai potensi bergerak keluar. Cairan ini dapat berupa larutan magma atau air. Larutan magma menerobos ke luar karena kegiatan magmatis dan mengikis sebagian daerah yang dilaluinya. Apabila kegiatan ini berhenti, maka bekas jejaknya (penyusutan magma cair) akan meninggalkan bentuk gua, lorong, celah atau bentuk lain semacamnya. Ini sering disebut gua lava, biasanya di daerah gunung berapi.
Proses yang terjadi terhadap batuan yang dilaluinya, tidak hanya proses mekanis, tetapi juga proses kimiawi. Karenanya, dinding celah atau gua, biasanya mempunyai permukaan yang halus dan licin.
Pembentukan gua lebih sering terjadi pada jenis batuan gamping, karst, dengan komposisi dominan Kalsium Karbonat (CaCO3), disebut gua batu gamping. Batuan ini sangat mudah larut dalam air, bisa air hujan atau air tanah. Oleh karenanya, reaksi kimiawi dan pelarutan dapat terjadi di permukaan dan di bawah permukaan. Tetapi sering kali ditemukan juga mineral-mineral hasil reaksi yang tidak larut di dalam air, misalnya kuarsa dan mineral ‘lempung’. Lazimnya bahan-bahan ini akan membentuk endapan tersendiri. Sedangkan larutan jenuh kalsium, di tempat yang tidak terpengaruh oleh tenaga mekanis, diendapkan dalam bentuk kristalin, antara lain berupa stalagtit dan stalagmit, yang tersusun dari mineral kalsit, dan variasi-variasai ornamen gua lainnya yang menarik untuk dilihat.
Air cenderung bergerak ke tampat yang lebih rendah. Sama dengan yang terjadi di bawah permukaan. Sama dengan yang terjadi di bawah permukaan. Hal ini berakibat daya reaksi dan pengikisan bersifat kumulatif. Tidak heran betapapun kecilnya sebuah celah tempat masuknya air di permukaan dapat menyebabkan hasil pengikisan berupa rongga yang besar, bahkan lebih besar di tempat yang lebih dalam. Rongga yang terbentuk mestinya berhubungan pula, hal ini mungkin karena sifat air yang mudah menyusup ke dalam celah yang kecil dan sempit sekalipun.
Ukuran besarnya gua tidak hanya tergantung pada intensitas proses kimiawi dan pengikisan yang berlangsung, akan tetapi juga ditentukan oleh jangka waktu proses itu berlangsung. Sedangkan pola rongga yang terjadi di bawah permukaan tidak menentu. Seandainya ditemukan pola rongga yang spesifik (mengikuti arah tertentu) maka dapat diperkirakan faktor geologi ikut berperan, misalnya adanya sistim patahan atau aspek geologis lainnya.
Selain jenis lava dan batu gamping yang dapat menyebabkan terjadinya gua, jenis batu pasir juga kadang-kadang memungkinkan terjadinya gua, demikian pula batuan yang membentuk lereng curam di tepi pantai. Kedua jenis batuan yang terakhir ini, biasanya mengakibatkan terjadinya gua yang tidak begitu dalam. Tenaga yang mempengaruhinya adalah tenaga mekanis berupa hantaman air atau hempasan ombak. Gua yang terjadi di sini disebut gua laut.
Di dalam proses pembentukan lorong ada banyak sekali kemungkinan bentuk, termasuk juga pembentukan apa yang kemudian kita sebut sebagai ornamen gua atau speleothem, beberapa ornamen yang memiliki sifat sama diberi nama; diantaranya;
1. Aragonite : Crystalline / cristal yang terbentuk dari CaCO3, jarang dijumpai.
2. Flow Stone : Kalsit (Calsite) yang terdeposisi (diendapkan) pada dinding lorong gua.
3. Gours : Kumpulan kalsit yang terbentuk di dalam aliran air atau kemiringan tanah. Aliran ini mengandung banyak CO2. Semakin CO2 memuai (menguap), kalsit yang terbentuk semakin banyak.
4. Helectite : Formasi gua yang timbul dengan sudut yang berlawanan dari gaya tarik bumi. Biasanya melingkar.
5. Marble : Batu gamping yang mengalami perubahan bentuk dimetamorfasekan oleh panas dan tekanan sehingga merubah struktur yang unik dari batu tersebut.
6. Stalactite : Formasi kalsit yang menggantung
7. Stalacmite : Formasi kalsit yang tumbuh ke atas, di bawah atap stalactite.
8. Straw : seperti stalactite tapi diameternya kecil, sebesar tetasan air.
9. Styalalite : Garis gelombang yang terdapat pada potongan batu gamping.
10. Pearls : Kumpulan batu kalsit yang berkembang di dalam kolam di bawah tetesan air. Disebut pearls karena bentuknya mirip mutiara.
11. Curtain : Endapan yang berbentuk seperti lembaran yang terlipat, menggantung di langit-langit gua atau di dinding gua.
12. Column
13. Couli Flower
14. Rimstone Pool : Berbentuk seperti bendungan yang berbentuk ketika terjadi pengendapan air, CO2-nya menghilang dan menyisakan kalsit yang bersusun-susun.

Sejarah Penelusuran Goa

Sejarah penelusuran gua dimulai di Eropa sejak 200 tahun lalu. Eksplorasi pertama tercatat dalam sejarah adalah tanggal 15 Juli 1780, ketika Louis Marsalliers menuruni gua vertikal Fairies di Languedoc, Perancis. Kemudian pada tanggal 27 Juni 1888, seorang ahli hukum dari Paris bernama Eduard Alfred Martel mengikuti jejak Marssalliers. Penelusurannya kali ini direncanakan lebih matang dengan menggunakan peralatan lengkap seperti katrol, tangga gantung, dan perahu kanvas yang pada waktu itu baru diperkenalkan oleh orang-orang Amerika. Bahkan telephone yang baru diperkenalkan digunakan untuk komunikasi di dalam tanah. Usaha Martel ini dianggap sebagai revolusi di bidang penelusuran gua, sehingga ia disebut sebagai “Bapak Speleologi Modern”.
Prestasi Martel juga dalam hal memetakan gua yang merupakan kewajiban seorang penelusur gua ketika ia melakukan eksplorasi gua ketika ia melakukan eksplorasi gua. Antara tahun 1888-1913, Martel telah banyak memetakan gua dalam setiap penelusurannya, ini digunakan untuk kepentingan ilmiah, dan untuk merekam kedalaman serta panjang gua-gua tersebut.
Ketika Perang Dunia II selesai, kegiatan penelusuran gua memunculkan kembali dua orang tokoh ; Robert de Jolly dan Norman Casteret. De Jolly merupakan pembaharu di bidang peralatan peralatan penelusuran gua, seperti tangga gantung dari aluminium dan perahu kanvas yang lebih sempurna. Penemuan ini mejadi standar bagi para penelusur gua sampai 50 tahun kemudian. Sedangkan Casteret menjadi pioneer di bidang “cave diving”. Usahanya ini dilakukan pada tahun 1922, ketika Casteret pertama kali menyelami lorong-lorong yang penuh air di gua Montespan tanpa bantuan peralatan apapun. Karangan-karangan Casteret antara lain “My Cave” dan “Ten Years Under Ground”, yang kemudian menjadi buku pegangan bagi para penggemar cave diving dan ahli speleologi.
Kebanyakan penelusur gua memulai kegiatannya sebagai pemanjat tebing, karena memang kegiatan yang dilakukan hampir serupa. Para pemanjat tebing pula yang memberi inspirasi bagi perkembangan penelusuran gua. French Alpine Club, sebuah perkumpulan pendaki gunung ternama di Eropa telah mengadakan ekspedisi bawah tanah, dan untuk pertama kalinya menggunakan tali sebagai pengganti tangga gantung. Kelompok ini pula yang mencipatakan rekor penurunan gua vertikal sedalam 608m.
Sejarah penelusuran gua sejalan dengan sejarah penelitian gua (speleologi), kedua kegiatan ini tak dapat dipisahkan satu dengan lainnya. Hal inilah yang dilakukan oleh Eduard Martel, Robert de Jolly, Norman Casteret dan banyak lagi penelusur gua di seluruh dunia.

Senin, 21 Maret 2011

Caving Goa Ngeleng






sumber:http://mapalasilvagama.or.id/divisi/...mber-2010.html
Basah, berlumpur, dan bau guano yang menyengat, begitulah keadaan gua dengan kedalaman ± 70m dari permukaan tanah ini. Upaya menelusurinya tak semudah yang dibayangkan. Banjir dan kondisi fisik yang lelah menjadi hambatan yang cukup berarti. Namun, bukankah semangat adalah inti dari semua perjuangan?

Sore itu,26 Desember 2010, hujan deras dan angin menemani kami selama perjalanan kami menuju Goa Ngeleng, kecamatan Paliyan, Gunung Kidul. Berenam kami , aku, Uut, Hafidh, Ami, Satrio, dan Indra berangkat dari sekretariat Mapala Silvagama dengan menggunakan sepeda motor.Kurang lebih satu setengah jam perjalanan, akhirnya kami sampai di Desa Mulusan dimana Goa Ngeleng berada, di tengah hutan jati kurang lebih 1 km dari jalan raya.

Landasan sepeda motor yang tadinya aspal mulus kini berganti menjadi tanah berbatu yang becek.Kondisi cuaca yang hujan memperparah kondisi jalanan. Beberapa kali ban sepeda motor kami selip dan terpeleset karena jalanan yang licin, hingga akhirnya motor benar benar sudah tidak bisa dinaiki, dan dengan terpaksa kami menuntun motor dan menggotong barang hingga mendekati mulut goa.

cahaya matahari sudah mulai pudar saat kami tiba di mulut Goa. Gelap yang mulai turun menyadarkan insting para kelelawar, mamalia bersayap penghuni goa itu untuk keluar mencari makanan. Ribuan kelelawar tersebut terbang berputar putar di entrance gua dengan diameter kira kira 100 m tersebut.Bunyi suara mereka yang bising tersebut seakan menyambut kedatangan kami ditempat itu. Kami sejenak terdiam, terkagum kagum akan atraksi yang luar biasa tersebut, hingga tak sadar hari sudah gelap dan kami harus mendirikan tenda untuk tidur malam ini.



Hujan Deras, Banjir Datang

Esok harinya, kami bangun pagi pagi sekali untuk persiapan alat dan sarapan. Nasi sayur dan telur dadar ditambah dengan segelas susu hangat terasa sungguh nikmat disantap di pagi hari di alam terbuka seperti ini. Kami makan dengan lahap, menimbun kalori untuk kegiatan hari ini. Setelah sarapan kami beranjak untuk menyiapkan peralatan yang akan dibawa dalam penelusuran nanti.

Goa Ngeleng sendiri memiliki dua buah pintu masuk atau entrance, yaitu entrance horizontal dan entrance vertical.Entrance vertikalnya berada beberapa meter disebelah tenda kami, sedangkan untuk mencapai entrance horizontalnya kami harus memutar dan berjalan kaki kira kira 15 menit dari tenda. Sesuai briefing tadi malam, hari ini kami berlima yaitu aku, Uut, Hafidh, Ami, Satrio akan menelusuri goa ini dari entrance horizontalnya dan Indra menjadi penunggu basecamp

Entrance horizontal ini berbentuk seperti segitiga yang tepat berada di aliran sungai. Berjarak kurang lebih seratus meter dari entrance horizontal, kami menjumpai entrance kedua, yaitu sebuah runtuhan tanah kapur yang membentuk lubang dengan diameter ±150 meter. Di dasar lubang tersebut, tempat kami berdiri, telah ditumbuhi berbagai vegetasi dengan tingkat densitas dan keragaman yang cukup tinggi. Selain itu hidup pula berbagai jenis satwa. Kami mengambil sampel beberapa jenis serangga yang ditemui untuk diteliti dan diidentifikasi jenisnya .

Hujan mulai turun saat kami berjalan mengikuti aliran sungai, namun team tetap melanjutkan penelusuran. Memasuki zona senja, aroma khas guano, kotoran kelelawar, mulai terasa menusuk hidung, namun itu bukan merupakan suatu penghalang buat kami. Kami tetap melanjutkan penelusuran.

Namun agaknya cuaca hari ini sedang tak bersahabat. Hujan turun bertambah lebat. Air sungai berubah menjadi berwarna coklat dan bertambah deras. Tinggi muka air yang tadinya hanya sebetis kita naik menjadi setinggi pinggang.

“Banjir cah, kita harus segera keluar dari sini”teriak Uut, koordinator team, ditengah suara arus air yang bergemuruh deras.

Akhirnya, sebelum memasuki zona gelap, kami memutuskan untuk kembali ke atas. Dengan susah payah kami berjalan melawan arus air sungai. Jam 2 siang kami tiba kembali di basecamp. Untuk hari ini, penelusuran Goa Ngeleng kami hentikan sementara.

Kelelawar, Guano, dan …..

Hari ke 2 penelusuran, kami memutuskan untuk memasuki gua melalui medan vertikal dengan menggunakan metode single rope technique.Medan vertical sedalam ± 70 meter ini akan kami turuni dengan sebuah tali. Metode ini merupakan metode yang paling sering digunakan oleh penelusur penelusur goa di Indonesia. Hari ini, lagi lagi Uut didaulat menjadi rigging man, orang yang bertugas memasang lintasan tali.

Satu per satu kami menuruni lintasan tali, dan mendarat beberapa puluh meter dari titik kami memutuskan untuk kembali ke atas pada hari sebelumnya. Dari situ kami mulai melakukan penelusuran kembali.

Kali ini cuaca cukup cerah, debit airpun sudah normal kembali.Perlahan lahan kami berjalan menyusuri aliran sungai masuk kedalam goa. Rupanya, cuaca yang cerah membuat udara di bawah bergerak naik keatas. Akibatnya, memasuki zona senja, bau guano terasa sangat menyengat hidung. Perut terasa mual, dan tak dapat ditahan, beberapa anggota team muntah ditempat. Setelah mengamati sekeliling, baru kami sadar, bahwa guano di tempat itu sangat tebal,kira kira semata kaki tingginya, ditambah lagi yang menempel di dinding gua dan mengapung di aliran sungai. Benar benar luar biasa.

Makin kedalam, hidung kami mulai mampu beradaptasi dengan bau guano ini. Rupa rupanya,Kelelawar di goa ini memang sangat banyak jumlahnya. Terlalu banyak, bahkan mereka tak hanya mendiami langit langit goa, tapi juga bergantungan di boulder boulder dan dinding goa. Pantas saja guano yang dihasilkan sebanyak itu.

Namun kelelawar bukanlah penghuni satu satunya dalam lorong gelap ini. Dalam kegelapan, kami menjumpai beberapa jenis serangga seperti jangkrik gua, kala cemeti dan beberapa jenis lainnya. Untuk keperluan identifikasi, kami mengambil sampel dari satwa satwa yang kami temui tersebut.

Kami terus berjalan meyusuri lorong gelap ini. Beberapa kali melewati chamber chamber besar, akhirnya lorong ini menyempit. Air sungai ini masuk kedalam lorong setinggi ± 70 cm dengan kedalaman air kira kira setinggi betis orang dewasa. Berjalan jongkok, kami menelusuri lorong berair ini dengan hati hati.

Lorong ini dipenuhi dengan guano yang sangat tebal. Guano yang mengapung saja kira kira setebal 2 cm. Ditambah dengan guano yang sudah mengendap di dasar lorong. Posisi berjalan jongkok membuat posisi hidung dengan sumber bau ini menjadi sangat dekat. Dapat dibayangkan, bau guano ini menjadi sangat menusuk hidung, dan sangat menggangu pernapasan kami.

Lorong ini makin lama makin menyempit. Kira kira 30 meter dari awal penyempitan lorong, dalam posisi berjongkok , tinggi air sudah berada di dagu kami. Lorong ini tak bisa lagi ditelusuri dengan jalan jongkok. Jika ingin menelusurinya, kita harus merangkak dan merayap perlahan lahan. Tajamnya aroma guano ini membuat kami merasa tak sanggup untuk meneruskan penelusuran dengan merayap. Akhirnya, kami memutuskan untuk menyudahi penelusuraan Goa Ngeleng ini. Pukul 3 siang seluruh anggota team sampai di basecamp.

Kelelahan tak kami pedulikan. Yang ada hanya rasa senang, rasa senang bisa belajar dari alam. Terngiang sebuah ujar ujar yang lazim terdengar di kalangan para pecinta alam.”Take nothing but picture, leave nothing but footprint, kill noting but time”. Kurasakan bahwa kata kata itu sudah tidak cukup relevan lagi dengan visi dan misi kami, Mapala Silvagama, dan konsep pecinta alam saat ini

Dalam pikiranku saat ini, ujar ujar itu kuubah. “Take nothing but knowledge, leave nothing but goodness, and kill nothing but fear”. Ya, ambillah pengetahuan, tinggalkanlah kebaikan, dan bunuhlah ketakutan ketakutan.
MSG 623

Jagung Manis Rebus

Ini dia menu yang mudah dibikin di lapangan apalagi di rumah.
Bahan: Jagung manis 5 buah (pilih yang udah tua), vanilli 2 sachet, mentega secukupnya, susu coklat kental manis (sesuai selera)
Cara bikin :
1. Jagung  dibersihin, rambutnya dihilangin. trus dipretelin (diambil bagian jagungnya, dibuang bonggolnya).
2. Rebus jagung dengan ditambah vanilli, biar harum.
3. Setelah matang, disaring sampe jagung terpisah dengan air rebusan, n campur dengan mentega selagi hangat.
4. setelah mentega yang leleh tercampur, campur dengan susu kental coklat sesuai selera di atas jagung dan diaduk-aduk sampe merata.
jagung manis rebus siap dihidangkan....
(untuk 4 porsi)